Perjalanan Literasiku





PERJALANAN LITERASIKU
========================



      Semenjak zaman sekolah, saya sudah menunjukkan ketertarikan kepada dunia tulis menulis. Biasanya dulu saya menulis hanya di buku tulis bagian belakang. Pernah dibelikan buku Diary oleh ibu. Buku itu penuh dengan coretan kegiatan saya sehari-hari. Hal itu terus berlanjut sampai SMA. Bahkan saya mempunyai geng yang sama-sama hobi menulis, namanya Geng Bella. Kami mempunyai satu buah buku milik bersama yang kami isi dengan cerpen versi kami sendiri. Setiap anggota akan mendapatkan giliran untuk mengisi buku tersebut, setelah itu bukunya akan digilir untuk dibaca anggota lain. Bahkan buku cerpen itu juga diperebutkan oleh teman-teman di luar geng.
      Ketika kuliah di Yogya tahun 1998/1999, hobi menulis masih terus berlanjut. Saya sering meminjam mesin tik milik teman untuk saya pakai menulis cerpen. Bahkan mesin tiknya pernah saya bawa ke kosan, kadang saya gadaikan kalau akhir bulan uang kiriman belum datang. Saya juga sering iseng mengirim surat atau mini cerpen ke stasiun radio dan mendengarkannya sebelum tidur.
      Setelah menikah dan tinggal di Timika-Papua, saya sudah tidak pernah lagi melakukan hobi menulis, baik lewat kertas atau media lain. Saat itu perkembangan tekhnologi sedang melesat, diikuti dengan akses internet yang mudah dan cepat, sehingga semua orang berlomba-lomba membaca dan menulis lewat handphone layar sentuh. Saya sempat jenuh dengan rutinitas sebagai IRT, jadi saya mencoba-coba menulis status di facebook, tetapi karena sudah tidak pernah diasah sekian lamanya, tulisan saya terasa aneh, sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang teman yang mengenalkan saya dengan sebuah grup yang berisikan ibu-ibu yang berdomisili di seluruh Indonesia. Nama grupnya adalah Grup Tulis dan Bisnis disingkat TNB yang berada dalam naungan bendera Indiscript, yang di gawangi oleh Teh Indari Mastuti. Di sana saya bergaul dengan ibu-ibu yang biasa dipanggil Nyonyah. Ya, kami adalah kumpulan nyonyah-nyonyah ketjeh yang strong. TNB sendiri banyak sekali angkatannya, saat itu saya bergabung dengan grup TNB 23 yang diasuh oleh Nyonyah ketjeh Ruli.
      Suatu hari salah seorang Nyonyah Admin yaitu Nyah Mentari Yousuf mengumumkan sesuatu yang membuat hati saya tergelitik. Terasa seolah ada suatu yang membuat gairah saya bangkit. Sesuatu yang lama terkubur kini seakan bangkit kembali. Pengumuman itu adalah sebuah lomba menulis untuk semua anggota grup, namanya 30 days writing challenge. Jantung saya berdebar-debar melihat para nyonyah yang sangat antusias mengisi list nama yang akan mengikuti lomba. Rasanya ingin sekali ikut, tetapi malangnya saya sangat gaptek, fitur-fitur canggih yang ada di handphone layar sentuh sama sekali tidak bisa saya gunakan. Jadilah akhirnya saya hanya bisa memandangi layar handphone dengan sedih. Akhirnya karena list semakin banyak, saya pun memberanikan diri chatt dan meminta untuk di masukkan nama dalam list. Dengan senang hati Nyah Mentari mengisikan nama saya di sana. Rupanya tantangan masih belum selesai, hari itu juga saya belajar mengisi list, menarik link status FB, menggabungkannya dalam list,dan menambah daftar pertemanan keempat puluh peserta lain. Setelah itu besoknya baru lomba menulis di mulai.
      Selama mengikuti lomba, tak ada materi sama sekali. Juri saja hanya dua, yaitu Nyah Ruli dan Nyah Mentari. Jadi kami, terutama saya, menulis tanpa dasar sama sekali. Beberapa teman ada yang sudah pernah mengikuti kelas menulis, beberapa lagi sama sekali buta dengan tekhnik-tekhnik menulis yang benar. Saat itu kami disodori tema sebanyak tiga puluh buah untuk ditulis selama sebulan penuh. Saya sangat bersemangat dan berhasil melaluinya tanpa ada yang bolong sehari pun. Ketika tiba pengumuman para pemenang, saya deg-degan. Saat itu pengumuman diumumkan pukul 02.00 WIT, dini hari. Daaannn … saya belum beruntung untuk lolos masuk dalam jajaran pemenang sepuluh besar. Tapi saya tidak patah semangat, saya bertekad untuk ikut lagi challenge kedua yang dilangsungkan beberapa hari kemudian. Di challenge kedua ini tema hanya lima belas buah yang harus diisi selama tigapuluh hari, itu artinya hanya dua hari sekali saja. Dan baru di C2 ini saya lolos masuk ke dalam top ten dan berhak bergabung dalam grup pemenang yang bernama Grup Writer and Author atau biasa disingkat WNA.
      Selama di WNA kami belajar banyak hal. Kami dididik untuk menjadi seorang leader. Nyonyah Mentari Yousof yang kami panggil Captain C selalu mendorong kami untuk maju dan bergerak sendiri tanpa harus disuapi oleh para senior. Kami mengikuti macam-macam training kepenulisan dari grup lain dan mulai mendesain logo, serta mencari nama klub yang akan menaungi kegiatan kami. Akhirnya setelah perjuangan panjang, pada bulan Mei 2017 berdirilah Klub INFINITY LOVINK yang disingkat ILO dengan tagline Connecting and Inspiring Woman. Nama Infinity LovInk sendiri filosofinya berarti Tinta Cinta yang Tak Terbatas. Dengan begitu diharapkan Infinity Lovink akan mampu menjadi wadah bagi para anggotanya yaitu wanita Indonesia untuk berkreasi dan berkarya tanpa batas, belajar menulis menumpahkan isi hati dengan cara yang elegan.
      Bagiku WNA adalah rumah yang hangat dan nyaman. Tak ada batasan antara senior dan yunior, karena Captain C selalu menekankan rasa persaudaraan dan kasih sayang antara sesama anggota. Kalaupun terjadi bentrok dan salah paham, hal itu adalah sesuatu yang wajar. Di sana saya menemukan yang tidak saya dapatkan di luar, yaitu saudara, sahabat, ilmu kepenulisan, serta nasihat-nasihat kebaikan yang selalu digaungkan oleh sang captain. Walau harus bersaing dalam lomba-lomba, tetapi kami saling mendukung satu sama lain. Sisterhood kami kuat, itulah yang membuat WNA tetap solid dan tidak tergoyahkan walau badai menerpa. Seperti pohon yang tumbuh semakin tinggi, tiupan angin juga akan semakin kencang. Kami tumbuh dan berkembang bersama-sama.
      WNA juga mempunyai proyek-proyek seperti membuat buku antologi per-angkatan dan gabungan, baik fiksi maupun non fiksi, mempersiapkan challenge berikutnya, membuat struktur ILO yang lebih jelas, dan lain-lain. Walaupun baru berusia beberapa bulan, tetapi ILO sudah berkembang dengan pesat. Saya bangga menjadi bagian dari WNA dan sejarah ILO. Semoga WNA tetap menjadi rumah yang hangat dan nyaman bagi penghuninya, rumah tempat pulang, bukan hanya sekadar tempat persinggahan sementara. Harapan saya yang lain, semoga WNA terus berinovasi memunculkan ide-ide segar di tengah persaingan dunia literasi yang semakin ketat. ILO telah menjadi pionir dalam challenge-challenge kepenulisan, karena saat ini sudah banyak bertebaran challenge serupa.
      Kini ILO sudah memasuki musim keempat yang telah diadakan bulan september kemarin. Untuk sementara, kami belum mengadakan challenge lagi dan fokus pada event-event yang sedang kami ikuti saat ini. Kalau di antara kalian ada yang penasaran dengan ILO, silakan kepoin FP dan IG-nya. Atau bisa juga kepoin FB Captain C yaitu Mentari Yousuf sang founder. Demikian sedikit cerita saya mengenai pengalaman selama bergabung di Klub menulis Infinity LovInk dan grup Writer and Author, semoga bermanfaat. Salam cinta dari saya ...


============================

<Vic>







 

 




















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi

Kandas