Perjalanan Literasiku
Semenjak zaman sekolah,
saya sudah menunjukkan ketertarikan kepada dunia tulis menulis.
Biasanya dulu saya menulis hanya di buku tulis bagian belakang.
Pernah dibelikan buku Diary oleh ibu. Buku itu penuh dengan coretan
kegiatan saya sehari-hari. Hal itu terus berlanjut sampai SMA. Bahkan
saya mempunyai geng yang sama-sama hobi menulis, namanya Geng Bella.
Kami mempunyai satu buah buku milik bersama yang kami isi dengan
cerpen versi kami sendiri. Setiap anggota akan mendapatkan giliran
untuk mengisi buku tersebut, setelah itu bukunya akan digilir untuk
dibaca anggota lain. Bahkan buku cerpen itu juga diperebutkan oleh
teman-teman di luar geng.
Ketika kuliah di Yogya tahun
1998/1999, hobi menulis masih terus berlanjut. Saya sering meminjam
mesin tik milik teman untuk saya pakai menulis cerpen. Bahkan mesin
tiknya pernah saya bawa ke kosan, kadang saya gadaikan kalau akhir
bulan uang kiriman belum datang. Saya juga sering iseng mengirim
surat atau mini cerpen ke stasiun radio dan mendengarkannya sebelum
tidur.
Setelah menikah dan tinggal
di Timika-Papua, saya sudah tidak pernah lagi melakukan hobi menulis,
baik lewat kertas atau media lain. Saat itu
perkembangan tekhnologi sedang melesat, diikuti dengan akses internet
yang mudah dan cepat, sehingga semua orang berlomba-lomba membaca dan
menulis lewat handphone layar sentuh. Saya sempat jenuh dengan
rutinitas sebagai IRT, jadi saya mencoba-coba menulis status di
facebook, tetapi karena sudah tidak pernah diasah sekian lamanya,
tulisan saya terasa aneh, sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang
teman yang mengenalkan saya dengan sebuah grup yang berisikan ibu-ibu
yang berdomisili di seluruh Indonesia. Nama grupnya adalah Grup Tulis
dan Bisnis disingkat TNB yang berada dalam naungan bendera
Indiscript, yang di gawangi oleh Teh Indari Mastuti. Di sana saya
bergaul dengan ibu-ibu yang biasa dipanggil Nyonyah. Ya, kami adalah
kumpulan nyonyah-nyonyah ketjeh yang strong.
TNB
sendiri banyak sekali angkatannya, saat itu saya bergabung dengan grup TNB 23
yang diasuh oleh Nyonyah ketjeh Ruli.
Suatu
hari salah seorang Nyonyah Admin yaitu Nyah Mentari Yousuf
mengumumkan sesuatu yang membuat hati saya tergelitik. Terasa seolah
ada suatu yang membuat gairah saya bangkit. Sesuatu yang lama
terkubur kini seakan bangkit kembali. Pengumuman itu adalah sebuah
lomba menulis untuk semua anggota grup, namanya 30 days
writing challenge.
Jantung saya berdebar-debar melihat para nyonyah yang sangat antusias
mengisi list nama yang akan mengikuti lomba. Rasanya ingin sekali
ikut, tetapi malangnya saya sangat gaptek, fitur-fitur canggih yang
ada di handphone layar sentuh sama sekali tidak bisa saya gunakan.
Jadilah akhirnya saya hanya bisa memandangi layar handphone dengan
sedih. Akhirnya karena list semakin banyak, saya pun memberanikan
diri chatt
dan meminta untuk di masukkan nama dalam list. Dengan senang hati
Nyah Mentari mengisikan nama saya di sana. Rupanya tantangan masih
belum selesai, hari itu juga saya belajar mengisi list, menarik link
status FB, menggabungkannya dalam list,dan menambah daftar pertemanan
keempat puluh peserta lain. Setelah itu besoknya baru lomba menulis
di mulai.
Selama
mengikuti lomba, tak ada materi sama sekali. Juri saja hanya dua,
yaitu Nyah Ruli dan Nyah Mentari. Jadi kami, terutama saya, menulis tanpa
dasar sama sekali. Beberapa teman ada yang sudah pernah mengikuti kelas menulis, beberapa lagi sama sekali buta dengan tekhnik-tekhnik menulis yang benar. Saat itu kami
disodori tema sebanyak tiga puluh buah untuk ditulis selama sebulan
penuh. Saya sangat bersemangat dan berhasil melaluinya tanpa ada yang
bolong sehari pun. Ketika tiba pengumuman para pemenang, saya
deg-degan. Saat itu pengumuman diumumkan pukul 02.00 WIT, dini hari.
Daaannn … saya belum beruntung untuk lolos masuk dalam jajaran
pemenang sepuluh besar. Tapi saya tidak patah semangat, saya bertekad
untuk ikut lagi challenge
kedua
yang dilangsungkan beberapa hari kemudian. Di challenge
kedua ini tema hanya lima belas buah yang harus diisi selama
tigapuluh hari, itu artinya hanya dua hari sekali saja. Dan baru di
C2 ini saya lolos masuk ke dalam top
ten dan
berhak bergabung dalam grup pemenang yang bernama Grup Writer and
Author atau biasa disingkat WNA.
Selama
di WNA kami belajar banyak hal. Kami dididik untuk menjadi seorang
leader.
Nyonyah
Mentari Yousof yang kami panggil Captain C selalu mendorong kami
untuk maju dan bergerak sendiri tanpa harus disuapi
oleh para senior. Kami mengikuti macam-macam training
kepenulisan
dari grup lain dan mulai mendesain logo, serta mencari nama klub yang
akan menaungi kegiatan kami. Akhirnya setelah perjuangan panjang,
pada bulan Mei 2017 berdirilah Klub INFINITY LOVINK yang disingkat
ILO dengan tagline Connecting and Inspiring Woman. Nama Infinity
LovInk sendiri filosofinya berarti Tinta Cinta yang Tak Terbatas.
Dengan begitu diharapkan Infinity Lovink akan mampu menjadi wadah
bagi para anggotanya yaitu wanita Indonesia untuk berkreasi dan
berkarya tanpa batas, belajar menulis menumpahkan isi hati dengan
cara yang elegan.
Bagiku
WNA adalah rumah yang hangat dan nyaman. Tak ada batasan
antara senior dan yunior, karena Captain C selalu menekankan rasa
persaudaraan dan kasih sayang antara sesama anggota. Kalaupun terjadi
bentrok dan salah paham, hal itu adalah sesuatu yang wajar. Di sana
saya menemukan yang tidak saya dapatkan di luar, yaitu saudara,
sahabat, ilmu kepenulisan, serta nasihat-nasihat kebaikan yang selalu
digaungkan oleh sang captain. Walau harus bersaing dalam lomba-lomba,
tetapi kami saling mendukung satu sama lain. Sisterhood kami kuat,
itulah yang membuat WNA tetap solid dan tidak tergoyahkan walau badai
menerpa. Seperti pohon yang tumbuh semakin tinggi, tiupan angin juga
akan semakin kencang. Kami tumbuh dan berkembang bersama-sama.
WNA
juga mempunyai proyek-proyek seperti membuat buku antologi
per-angkatan dan gabungan, baik fiksi maupun non fiksi, mempersiapkan
challenge
berikutnya,
membuat struktur ILO yang lebih jelas, dan lain-lain. Walaupun baru
berusia beberapa bulan, tetapi ILO sudah berkembang dengan pesat.
Saya bangga menjadi bagian dari WNA dan sejarah ILO. Semoga WNA tetap
menjadi rumah yang hangat dan nyaman bagi penghuninya, rumah tempat
pulang, bukan hanya sekadar tempat persinggahan sementara. Harapan
saya yang lain, semoga WNA terus berinovasi memunculkan ide-ide segar
di tengah persaingan dunia literasi yang semakin ketat. ILO telah
menjadi pionir dalam challenge-challenge
kepenulisan, karena saat ini sudah banyak bertebaran challenge
serupa.
Kini
ILO sudah memasuki musim keempat yang telah diadakan bulan september
kemarin. Untuk sementara, kami belum mengadakan challenge
lagi
dan fokus pada event-event yang sedang kami ikuti saat ini. Kalau di
antara kalian ada yang penasaran dengan ILO, silakan kepoin FP dan
IG-nya. Atau bisa juga kepoin FB Captain C yaitu Mentari Yousuf sang
founder. Demikian sedikit cerita saya mengenai pengalaman selama
bergabung di Klub menulis Infinity LovInk dan grup Writer and Author, semoga bermanfaat. Salam cinta dari saya
...
============================

















Komentar
Posting Komentar