RESOLUSI Hari ini tanggal 31 Desember 2017, pkl. 00.00 WIT. Semenjak seminggu yang lalu suara petasan dan kembang api sudah berdentam di udara. Aku masih terpaku menatap layar laptop yang menyala. Sebenarnya aku ingin menumpahkan segala rasa yang membuncah, tetapi rasanya lidah tak mampu berkata. Aku juga ngin menulis banyak hal, tentang kamu, dia, dan semua mimpi-mimpi yang selalu menghantui lelap tidurku. Tetapi jemari ini melawan ketika kuperintahkan. Akhirnya, setelah melalui pertarungan sengit di kepala, aku memenangkan pertarungan ini. Aku mulai memberanikan diri menarikan jemariku di atas keyboard laptop harga tiga juta hasil ngutang sama kakakku beberapa bulan lalu, dengan sistem pembayaran menyicil lima ratus ribu selama tiga bulan. Ah, bila teringat dengan perjuanganku untuk punya laptop, kuharap penyakit malas yang suka kumat ini bisa segera sembuh. Aku telah bertekad untuk mengumpulkan uang dari menulis, dan bisa menebus harga laptopku, sehingga aku nggak ...
Postingan
Menampilkan postingan dari Desember, 2017
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kenangan Masa TK Usia 4-5 tahun kulalui di kebun kopi milik orang tuaku di Sumatra. Namanya di kebun, tentu tidak ada sekolah. Tetapi yang teringat pada masa itu yaitu kenangan dengan almarhum kakekku. Beliau ayah dari bapakku. Kakek sangat menyayangi aku dan kakakku, padahal cucunya yang lain banyak. Kami selalu digendong ke manapun kami pergi, aku di depan, sedangkan kakakku di belakang. Kalau ibu menyuruh kakek menurunkan kami, kakek tidak pernah mau. Katanya kasihan, nanti kami capek. Kakek berperawakan kecil dan kurus, tetapi tubuhnya kuat dan liat. Ada satu lembar foto kami bersama kakek sewaktu di kebun ketika kami berumur sekitar lima tahunan. Foto itu semakin menguatkan ingatanku akan beliau, kutemukan ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sekarang foto itu sudah hilang, tetapi aku masih bisa mengingatnya dengan baik sampai kini. Ketika kakek wafat di Madinah saat hendak menunaikan ibadah haji, aku ingat sekali suasana sedih di rumah Uwakku. Malam sebelu...
Kandas
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Untukmu yang Telah Pergi Kukatakan kepadamu, aku adalah wanita yang mandiri. Dari kecil aku terbiasa sendiri. Aku berjuang mempertahankanmu, bukan karena takut tak ada yang kan menafkahi. Aku berjuang ingin terus bertahan semata demi putra semata wayang kita. Walau harus kulalui ribuan hari hidup tanpa cinta, aku tetap ingin kau ada. Tapi kini rasanya percuma semua yang kupertahankan. Kau tetap tak peduli dan semakin ingin beranjak pergi. Kini telah kupahami bahwa aku harus terus berjalan, serta mencari bahagia yang baru. Bukan tetap berada di samping orang yang tak lagi merasakan rindu dan tak peduli pada perjuanganku. Walau bagaimanapun kuatnya caraku menggenggammu, itu tak akan menghentikan niatmu untuk berlalu. Kini aku tak akan lagi mempertahankanmu. Aku izinkankan kau berlalu, dan aku tak akan memaksamu untuk kembali mencintaiku.
GA
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
ARTI WNA Dulu, WnA hanyalah sebuah persinggahan sementara bagiku. Aku yang saat itu sedang mengembara mencari ilmu menulis singgah sebentar di sana. Para penghuninya menerimaku dengan hangat dan tangan terbuka. Aku yang haus dan lelah, seakan mendapat kekuatan untuk kembali meneruskan perjalanan. Dalam pengembaraanku berikutnya, tak kutemukan orang-orang yang seperti mereka. Akhirnya aku pun sadar, tempatku bersama mereka. Kemudian aku kembali dan berkata ingin tinggal dan tak akan pernah pergi lagi. Di WnA, kami dididik untuk menjadi seorang leader. Captain selalu mendorong agar kami terus belajar. Kami mengikuti berbagai macam training kepenulisan dari tempat lain, yang mana nantinya ilmu itu akan kami turunkan kepada adik-adik kami dan bisa digunakan untuk mengembangkan WnA agar mampu bersaing secara sehat di dunia luar. Captain juga selalu menekankan rasa persaudarian dan kasih sayang. Sisterhood kami kuat. Itulah yang membuat WnA tetap solid dan tak tergoyahkan. Di ...
Catatan Dini Hari
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ketika Hidup Tak Seindah Fatamorgana Wanita itu menatap amplop cokelat lusuh di tangannya dengan pandangan nanar. Ujung amplop yang robek melambai-lambai seakan mengejeknya. Hatinya nyeri manakala menatap kenyataan akan sebuah jalan yang kini membentang. Dia sungguh takut, andai tidak mampu menjalani masa depan bersama buah hatinya. Tadi dia menerima surat itu sambil tertawa palsu kepada petugas pengadilan yang menatapnya iba. Surat itu, adalah surat panggilan untuk menghadapi sidang perceraiannya. Dia sudah lelah memohon kepada suaminya agar jangan pergi, tetapi hati lelaki itu telah mengeras seperti batu. Tak sedikitpun lelaki itu bergeming dari pendiriannya untuk tetap memilih pergi dan meninggalkan dirinya yang katanya sudah tidak lagi berguna, serta menepis perasaan anak lelaki semata wayang mereka yang akan melihat ayahnya bersama dengan wanita lain. Ah, sungguh tak pernah dia mengira hidupnya akan seperti ini. Tak pernah dia menyangka badai akan menyapa dalam perkawinan...
Puisi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Janji Hari demi hari Waktu demi waktu Sedikit demi sedikit Terbuka lembaran cerita Terurai simpul rahasia Saling berjanji untuk menapak tilas Mengunjungi tempat-tempat yang pernah kita datangi Tempat-tempat bersejarah Yang menjadi saksi perjalanan cinta kita Yang terus mengikat Walau sejauh apa kita pergi Hati ini selalu mencari Tempat yang telah kita tinggalkan ************ Timika, Pkl. 07.00 WIT
Puisi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Untukmu, Wahai Sang Penghianat Waktu Kandas sudah segala mimpi Untuk hidup denganmu hingga seribu waktu Karena kini kamu telah pergi Tinggalkan kami di dalam sunyi Demi mengejar mimpimu sendiri Demi mencari bahagiamu sendiri Jika waktu tak mengajarkan aku apa-apa Maka akan kubiarkan diriku musnah Bersama api amarah Tapi waktu menunjukkan padaku Untuk bangkit dan berdiri lagi Untuk tidak menyerah walau hanya sekejap Perbaiki dan layakkan diri Karena aku akan menemukan dia yang lain suatu hari nanti Yang mencintai kekuranganku Bukan hanya mencintai kelebihanku Dia yang mengajarkan arti cinta Yang sesungguhnya *********** Timika, pkl. 06.36 WIT
Puisi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kenapa Kau Pergi (Setia Furqon K) Kehilangan jejakmu menjadi sebuah tanya dalam hatiku Ke mana kamu pergi meninggalkan hari di mana kamu bilang begitu mencintaiku Nyatanya ... Kamu hanya meninggalkan luka dalam dada Masihkah tersimpan rasa cinta jika kamu tiada? Karena melupakan tidak semudah mencintai Karena mengikhlaskan tidak semudah menerima Karena pergi dari kehidupanmu tak semudah kamu pergi dari kehidupanku Apakah suatu saat nanti aku harus menerima kamu kembali? Jika tidak berniat menyakitiku, kenapa pergi? ******************** Timika, Pkl. 06.25 WIT
Rindu Yang Seperti Hantu
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Rindu yang tiba-tiba menghampiri beberapa hari ini membuat hatiku berdebar tak menentu. Rinduku padamu yang begitu betah mendekam di dalam dada. Rindu yang tak mampu terucapkan, bersembunyi di balik lidah, dan gigi yang mengering karena tawa yang pura-pura. Ah, andai kamu tahu rindu ini begitu membuncah, hingga rasanya gunung bisa kudaki, atau laut kuseberangi demi menuju kepada dirimu, tetapi tidak. Aku tidak bisa, kau bukan milikku. Kau milik istrimu. Aku hanya wanita masa lalu bagimu, meski cinta kita masih tetap sama seperti dulu, puluhan tahun yang lalu. Cemburu, tentu aku cemburu, tetapi itu sudah lama menjadi makanan jiwaku, setiap mengenangmu yang terbayang adalah sedang apakah dirimu, ke manakah kamu, atau bahagiakah kamu dengan istrimu? Kini aku sudah sendiri, aku tak mampu mempertahankan mahligai rumah tangga ini. Mengharapkanmu? Tentu saja aku mau, tetapi hingga kini kita masih berkutat kepada satu saja perbedaan. Dan terlebih, kamu masih mencintai istrimu, meski kata...