Rindu Yang Seperti Hantu

Rindu yang tiba-tiba menghampiri beberapa hari ini membuat hatiku berdebar tak menentu. Rinduku padamu yang begitu betah mendekam di dalam dada. Rindu yang tak mampu terucapkan, bersembunyi di balik lidah, dan gigi yang mengering karena tawa yang pura-pura.

Ah, andai kamu tahu rindu ini begitu membuncah, hingga rasanya gunung bisa kudaki, atau laut kuseberangi demi menuju kepada dirimu, tetapi tidak. Aku tidak bisa, kau bukan milikku. Kau milik istrimu. Aku hanya wanita masa lalu bagimu, meski cinta kita masih tetap sama seperti dulu, puluhan tahun yang lalu.

Cemburu, tentu aku cemburu, tetapi itu sudah lama menjadi makanan jiwaku, setiap mengenangmu yang terbayang adalah sedang apakah dirimu, ke manakah kamu, atau bahagiakah kamu dengan istrimu?

Kini aku sudah sendiri, aku tak mampu mempertahankan mahligai rumah tangga ini. Mengharapkanmu? Tentu saja aku mau, tetapi hingga kini kita masih berkutat kepada satu saja perbedaan. Dan terlebih, kamu masih mencintai istrimu, meski katamu kamu juga mencintaiku. Aaasuuudahlaahh! Memang kita tidak berjodoh, mau bilang apa?

Walau rinduku menggebu, tetapi aku masih punya nurani. Tak akan aku mengumbar perasaan ini. Rasa ini hanya milikku, tak akan kubagi kepada orang lain yang hanya kepo dan ingin tahu. Orang-orang di luar sana kejam-kejam dan tak berperasaan. Aku hanya ingin menikmati kesendirian tanpa direcoki perbedaan-perbedaan yang dibesar-besarkan. Kalau rindu padamu, aku akan berlari dan mengadu kepada Rabb-ku. Meminta agar rindu ini diberi selimut yang membuat hatiku tak kembali menggigil memanggil namamu.



#Catatandinihari
#Rindu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi

Kandas