Catatan Dini Hari
Ketika Hidup Tak Seindah Fatamorgana
Wanita itu menatap amplop cokelat lusuh di tangannya dengan pandangan nanar. Ujung amplop yang robek melambai-lambai seakan mengejeknya. Hatinya nyeri manakala menatap kenyataan akan sebuah jalan yang kini membentang. Dia sungguh takut, andai tidak mampu menjalani masa depan bersama buah hatinya. Tadi dia menerima surat itu sambil tertawa palsu kepada petugas pengadilan yang menatapnya iba. Surat itu, adalah surat panggilan untuk menghadapi sidang perceraiannya.
Dia sudah lelah memohon kepada suaminya agar jangan pergi, tetapi hati lelaki itu telah mengeras seperti batu. Tak sedikitpun lelaki itu bergeming dari pendiriannya untuk tetap memilih pergi dan meninggalkan dirinya yang katanya sudah tidak lagi berguna, serta menepis perasaan anak lelaki semata wayang mereka yang akan melihat ayahnya bersama dengan wanita lain.
Ah, sungguh tak pernah dia mengira hidupnya akan seperti ini. Tak pernah dia menyangka badai akan menyapa dalam perkawinannya. Perselisihan dan perdebatan yang selalu mewarnai hari-hari mereka, kini akan berakhir pada perpisahan. Permohonan ampun dan maaf tak jua melunakkan hati lelaki yang telah diselimuti ambisi wanita lain yang meminta untuk dinikahi.
Dia beranjak ke kamar mandi dan membasahi tubuhnya dengan wudhu. Di atas sajadah kecil itu dia tumpahkan segala gundah gulananya. Air mata yang telah lama mengering, kini kembali membasahi pipi dan mukena putih satu-satunya yang tak pernah berganti. Ampunan akan dosa dan doa mengalun dari bibirnya yang bergetar. Tak sedikitpun dia meragukan keadilan sang Pemilik Hidup akan takdirnya, bila memang dia harus menyandang predikat janda.
Dia hanya meminta agar diberikan ketabahan dan keikhlasan, agar tak berat langkahnya dalam menjalani hari-hari ke depan. Penghianatan lelaki itu memang telah membuatnya kehilangan kepercayaan kepada manusia, tetapi Allah telah meraihnya dalam kegelapan dan menempatkannya dalam ruang yang terang. Hingga dia tetap percaya, bahwa Allah tak akan pernah berpaling dari hamba-hamba-Nya yang merintih dalam doa.
==================================
Komentar
Posting Komentar