Kenangan Masa TK
Usia 4-5 tahun kulalui di kebun kopi milik
orang tuaku di Sumatra. Namanya di kebun, tentu tidak ada sekolah.
Tetapi yang teringat pada masa itu yaitu kenangan dengan almarhum
kakekku. Beliau ayah dari bapakku. Kakek sangat menyayangi aku dan
kakakku, padahal cucunya yang lain banyak. Kami selalu digendong ke
manapun kami pergi, aku di depan, sedangkan kakakku di belakang.
Kalau ibu menyuruh kakek menurunkan kami, kakek tidak pernah mau.
Katanya kasihan, nanti kami capek.
Kakek berperawakan kecil dan kurus, tetapi
tubuhnya kuat dan liat. Ada satu lembar foto kami bersama kakek
sewaktu di kebun ketika kami berumur sekitar lima tahunan. Foto itu
semakin menguatkan ingatanku akan beliau, kutemukan ketika aku masih
duduk di bangku Sekolah Dasar. Sekarang foto itu sudah hilang, tetapi
aku masih bisa mengingatnya dengan baik sampai kini.
Ketika kakek wafat di Madinah saat hendak
menunaikan ibadah haji, aku ingat sekali suasana sedih di rumah
Uwakku. Malam sebelum kakek berangkat haji, Uwak tertua bilang sama
kakek titip salam buat almarhumah nenek. Sontak semua yang mendengar
terperangah. Kalimat itu seolah mengisyaratkan agar kakek menyusul
almarhumah nenek.
Setelah akhirnya ucapan Uwak tertua menjadi
kenyataan, kemudian kami mendengar kabar kalau kakek sudah meninggal serta
dikuburkan di Madinah, Uwak kedua sangat marah dengan Uwak pertama.
Mereka bertangis-tangisan dan saling menyalahkan.
Aku yang saat itu tidak mengerti apa arti
kematian dan kehilangan, hanya bisa diam menyaksikan keramaian itu.
Suasana di rumah Uwak kedua ramai tetapi muram. Semua orang menangisi
kematian kakekku. Apalagi ketika dengan polosnyaa aku bertanya di mana
kakek karena aku rindu, tangis mereka semakin menjadi. Saat itu aku
benar-benar rindu dengan kakek, karena beliau sangat dekat denganku. Walaupun kakek sudah wafat
berpuluh tahun lamanya, tetapi ikatan jiwaku dengan beliau masih
sangat kuat hingga kini.
Komentar
Posting Komentar